Kehilangan Diri Sendiri


Rasanya, 24 jam terlalu sempit untuk melakukan semuanya sekaligus. Tidur berarti mati. Padahal tubuh sudah menuntut di ujung hari. Dan ujung jari, ruang obrolan tak pernah sunyi, sejumlah pesan sengaja tak dibuka untuk sekian lama, sederet target ungin dipenuhi segera seleas berdoa.

Tiba-tiba kamu tersesat dalam ditraksi informasi. Kabar hangat Negeri ini. Kabar teman di dalam negeri lain. Kabar mereka yang kehormatannya terukur melalui jumlah tanda hati, yang terasa lengkap dengan postingan keluarga serta buku nikah tahun ini, yang mewujudkan ide-idemu lebih dulu, yang prestasinya melejit sekaligus bikin cemburu, yang tampak sangat lebih bahagia dari pada kamu. 

Jagat sosial media telah memaksamu jadi bintang. Terang tapi terasing. Di atas sana, kamu ukir dirimu dengan kata-kata memukau. Kamu reka pribadi paling baik, paling cantik, Segala cara  hanya untuk dilirik. Seperti sedang mendekorasi stand pameran, kamu tampilkan segala sesuatu drai hidupmu yang berkilau dan kamu buang yang berkarat.

Begitu pandai kamu menjaga hati banyak orang untuk tak berlari dari tempatmu berpijak saat ini. Diam-diam tanpa disadari, kamu pun amat sangat sibuk menjaga hati untuk tak dicederai.

Tanda centang dua telah mengubah caramu berfikir. Tentang penting atau tidaknya dirimu di mata orang lain. Ada banyangan hitam berbisik dikepalamu saat notifikasi belum juga berbunyi.

Kehilangan dunia tidak lebih menyaitkan dari pada kehilangan diri sendiri. Ingatkah kamu juga punya sejarah? Ada fosil masa lalu yang disembunyikan. Ada penyok di sisi belakang. Ada debu di bagian dalam yang tak tersentuh. Ada beberapa sisi yang menyedihkan yang hampir kamu lupakan dan tak ingin orang lain intip. Detik ini bahkan saat mengingatnya air matamu menitik.

Bagi mereka yang tulus, dirimu seperti museum. Mungkin tak banyak didatangi pengunjung. Namun mereka, para pengunjung itu tetap percaya : Kamu berharga. Yang indah jadi cerita. Yang busuk jadi legenda. Yang lebih darimu tidak akan membuat mereka buta. Yang kurang darimu mereka terima untuk diperbaiki sama-sama. Tanyamu sambil ketawa, "siapa? Emang ada  yang sudi nerima aku apa adanya?"

Ada. Selalu ada, periksa lagi satu persatu kontak dalam seperangkat alat komunikasimu. Sudah lama Tuhan mengirimkan mereka buat kamu. Sudah lama. Adakalanya tidak. Tapi tetap saja, ada. Tuhan tidak mungkin membiarkan mu sendirian dan menderita. Jika sudah menemukannya, jagalah mereka baik-baik. Jika belum, berarti pintumu masih terkunci. Keluarlah sesekali. Kenalkan dirimu yang asli.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Proses

Hal-hal yang akan kamu sadari ketika beranjak dewasa

Ketika kamu berubah